Pengaruh Gadget Terhadap Agresivitas Anak dan Cara Mengurangi yang Dapat Diterapkan oleh Orang tua

Pada era digital, hampir semua orang sulit lepas dari gadget-nya, termasuk anak-anak. Mereka sudah mulai mengetahui cara menggunakan gadget sejak usia yang sangat dini, padahal mereka masih sulit membedakan mana yang baik untuk dikonsumsi dan mana yang tidak. Banyak sekali anak usia dini yang mulai bermain game online, menonton video di Youtube. Perkembangan teknologi di era digital semakin canggih, orang tua dituntut untuk memahami perkembangan teknologi agar dapat membimbing dan mengarahkan anak karena dalam setiap teknologi tentunya memiliki dampak positif dan negatif. Teknologi seperti internet, video game, dan lainnya telah berkembang pesat dan membuat dampak signifikan pada perkembangan anak dari segi emosi.

Bimbingan dan arahan dari orang tua sangat dibutuhkan agar anak tidak terkena salah satu dampak negatif dari terlalu sering bermain gadget, seperti contohnya, mengalami permasalahan dalam perkembangan emosi di mana anak menjadi lebih agresif yang diakibatkan oleh kurangnya waktu berinteraksi dengan teman sebayanya. Perilaku agresif adalah suatu perilaku atau suatu tindakan yang diniatkan untuk mendominasi melalui kekuatan verbal maupun kekuatan fisik. Sifat agresif sendiri dapat berupa mengancam, berkelahi (tanpa atau dengan provokasi), serta marah (tanpa alasan jelas), dan ucapan kasar untuk mengintimidasi.

Penggunaan gadget tanpa pengawasan orang tua dapat membuat anak mengakses hal-hal yang tidak diinginkan. Kartun yang anak tonton lewat situs online mungkin saja tanpa sepengetahuan orang tua mengandung unsur kekerasan seperti perkelahian ataupun kata kasar yang tidak sepantasnya diucapkan. Kecenderungan anak untuk berperilaku agresif menjadi besar.

Orang tua cenderung memberikan gadget kepada buah hatinya saat sedang menangis agar lebih cepat tenang, tetapi, jika terus menerus dilakukan, hal ini juga dapat membawa dampak negatif. Tidak sedikit anak yang ketika orang tuanya meminta gadget mereka untuk dikembalikan malah menangis, berteriak, bahkan sampai memukul, yang kemudian orang tua pun terpaksa memberikan kembali gadget agar anak kembali diam dan siklus ini terus berulang, contoh ini menunjukan sifat agresif anak yang disebabkan oleh gadget.

Lalu, apa saja yang bisa orang tua lakukan untuk mengurangi perilaku agresif pada anak yang disebabkan oleh penggunaan gadget berlebih?

Orang tua harus mengetahui terlebih dahulu kalau alat elektronik sejatinya memiliki dampak positif dan negatif. Jika sudah menyadari dan dapat membedakan mana yang merupakan dampak positif dan mana yang merupakan dampak negatif, orang tua bisa usahakan untuk terus memantau anak mulai dari aplikasi mana saja yang diakses, video apa saja yang ditonton, dan lainnya.

Perlu diketahui bahwa ada aplikasi dan tontonan yang bersifat untuk mengedukasi yang tentunya membawa dampak positif dan baik untuk dikonsumsi anak, terutama untuk mendukung perkembangannya, oleh sebab itu, diharapkan orang tua tidak menutup rapat-rapat pintu digital kepada anak mereka.

Komunikasi antara orang tua dengan buah hati tentunya juga sangat penting dan dibutuhkan. Komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak berperan penting di era digital ini. Ada baiknya bila orang tua menjadi lebih tegas kepada anak mereka dalam menentukan batas waktu bermain gadget dengan perlahan-lahan mengajarkan bahwa penggunaan gadget ada waktunya dan memiliki batasannya sendiri sesuai dengan usia sang anak agar tidak kecanduan dan tetap memiliki pengalaman sosial di luar media digital yang seimbang. Batas waktu menggunakan gadget yang disarankan adalah satu jam perhari untuk anak usia 2 sampai 5 tahun, dengan bimbingan orang tua. Selanjutnya, untuk anak berusia 18 bulan sampai 2 tahun disarankan untuk menggunakan aplikasi atau tontonan yang tepat dan didampingi oleh orang tua. Sementara itu bagi anak yang masih berusia kurang dari 18 bulan penggunaan gadget masih belum direkomendasikan.

Saat anak menunjukan perilaku agresif ketika gadget-nya diminta kembali, orang tua bisa mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan mengajak berbicara, memberikan mainan lain (seperti buku cerita) atau mengajak melakukan aktifitas lain (contohnya, mewarnai dan menggambar). Di sini orang tua dapat mencontohkan hal-hal yang baik agar anak senantiasa mengikuti, seperti tidak terlalu sering menggunakan gadget di depan anak.

Ditulis oleh: Nabila Putri H.

Referensi :

Febrina, C. L. (2014). Pengaruh intensitas bermain game online terhadap agresivitas siswa. Jurnal Ilmiah Visi, 9(1), 28 – 35. https://doi.org/10.21009/JIV.0901.4

Hertinjung, W., Septianingrum, A., & Putri, Y. (2021). Peningkatan kompetensi orang tua dalam mendampingi anak dalam mengakses gadget. Warta LPM, 24(2), 187-195.          https://doi.org/10.23917/warta.v24i2.11291

Nikmah, F. J., & Lubis, H. (2021). Hubungan intensitas penggunaan gadget dengan perilaku agresif pada anak pra-sekolah (4-6 tahun). Psikoborneo Jurnal Ilmiah Psikologi, 9(2),           417-429. https://doi.org/10.30872/psikoborneo

Sari, D., & Nurjanah, A. (2020). Hubungan game online dengan perkembangan emosional anak usia 5-6 tahun. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 994-999.           https://doi.org/10.31004/obsesi.v4i2.344

Wahyuni, A. S., Siahaan, F. B., Arfa, M., Alona, I., & Nerdy, N. (2019). The relationship between the duration of playing gadget and mental emotional state of elementary school           students. Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences, 7(1), 148–151. https://doi.org/10.3889/oamjms.2019.037

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *