Apakah Anak Anda Mengalami Sensory Processing Disorder? Ketahui Gejala dan Cara Mengatasi

#Keluarga Mentari, pernahkah mengalami kejadian dimana si kecil menangis sejadi-jadinya saat dipotong rambutnya?

Atau anak tantrum di pesta ulang tahun yang seharusnya menyenangkan untuk anak-anak lain?

Atau mungkin terkadang kita sebagai orangtua merasa gemas karena si kecil terlalu takut mencoba segala sesuatu. Misalnya, naik undakan kecil takut, naik ayunan takut, injak pasir takut.

Atau sebagai orangtua, kita selalu dag dig dug karena si kecil sepertinya belum paham bahaya. Seperti tiba-tiba berlari di tengah jalan raya, memanjat teralis di rumah lalu lompat – padahal teralis tersebut sangat tinggi.

Atau mungkin juga sebagai orangtua kita seperti selalu merasa kelelahan dalam menjaga si kecil karena ia sepertinya aktif luar biasa?

Jika iya, maka mungkin penjelasan mengenai Sensori Integrasi ini menjadi penting untuk disimak.

Apa itu Sensori Integrasi?

Tubuh kita memiliki 7 indera yang berfungsi untuk menerima informasi dari lingkungan. Ketujuh indera tersebut adalah 

visual (penglihatan), 

auditory (pendengaran), 

olfactory (penciuman), 

gustatory (pengecapan), 

tactile (perabaan), 

verstibular (keseimbangan), dan 

proprioceptive (otot dan sendi).

Sensory Processing atau Sensory Integration (Sensori Integrasi) adalah proses yang dilakukan sistem syaraf dalam menerima seluruh informasi yang ada di sekitar kita melalui ketujuh indera. Kemudian mengatur/mengintegrasikan informasi-informasi tersebut agar dapat membentuk perilaku yang adaptif.

Apa itu Sensory Processing Disorder?

Sebagian besar dari kita terlahir memiliki kemampuan untuk menerima informasi sensoris dan mengaturnya secara “otomatis” untuk bisa meresponnya dengan respon fisik dan perilaku yang tepat. Namun ada juga yang mengalami gangguan pada proses tersebut sehingga muncul perilaku yang kurang adaptif. Hal ini disebabkan karena otak yang bekerja secara berbeda.

Gangguan inilah yang biasa disebut dengan Sensory Processing Disorder (SPD). SPD adalah sebuah gangguan yang terjadi, saat sinyal-sinyal sensoris tidak dapat diatur dan diorganisir menjadi respon-respon yang tepat dan pada akhirnya mengganggu rutinitas, aktivitas dan perkembangan seorang anak. Menurut Dr. A. Jean Ayres (Occupational Therapist & Educational Psychologist), saat seorang anak memiliki gangguan sensory processing, masalah sosial, emosional, motorik, belajar dan problem fungsional lainnya akan muncul.

Apa saja Gejala-Gejalanya?

3 gejala yang paling umum bisa dilihat dari anak-anak dengan SPD adalah dibawah ini. Perlu dipahami bahwa setiap anak bisa berbeda derajat kesulitannya. Ada anak yang hanya menunjukkan salah satu diantara 3 gejala dibawah, ada juga yang menunjukkan lebih dari 1.

Underresponsive

Anak-anak dengan sensory underressponsivity menunjukkan respon yang lebih sedikit dari yang diminta oleh situasi. Mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk merespon dan membutuhkan input sensori yang lebih intens agar mereka sadar dan mau merespon. Misalnya: Anak-anak yang underresponsive pada indera perabaannya (tactile) mungkin memiliki toleransi yang tinggi terhadap rasa sakit. Seorang anak yang tidak sadar saat ia terluka, atau saat menyentuh sesuatu yang panas/dingin tidak segera melepaskannya, merupakan beberapa contoh underresponsivity pada indera peraba.

Overresponsive (sensory defensiveness)

Berkebalikan dengan underresponsive, Anak-anak dengan sensory overresponsivity merespon input sensoris lebih dari yang dibutuhkan. Misalnya: Anak-anak yang over responsif pada indera peraba nya, mungkin sangat tidak menyenangi sensasi sentuhan dari tekstur bajunya, bantal atau sprei di kamarnya, sehingga ia tidak nyaman dengan banyak tekstur pakaian; hanya bisa tidur dengan seprei / bantal / selimut tertentu; menangis hebat saat harus mengganti bajunya dengan baju yang lain, dll. Contoh lainnya, anak-anak yang overresponsif pada indera penciumannya, merasa semua hal memiliki bau yang tidak enak, sehingga ia tidak nyaman di banyak situasi.

Seeking/craving

Anak-anak yang menunjukkan respon sensory seeking, biasanya terus dalam kondisi “mencari” sensasi sensoris yang ia butuhkan, dan seringnya dengan cara-cara yang kurang adaptif / kurang dapat diterima oleh lingkungan. Sebagai contoh, anak-anak yang terlihat terus bergerak (tidak dapat mengantisipasi bahaya), anak-anak yang saat berada di playground memilih permainan-permainan yang cenderung berbahaya dan melakukannya dengan santai tanpa rasa takut, anak-anak yang terus menerus melompat, menabrak atau bermain kasar, bisa jadi mengalami seeking / craving sensori verstibular. Biasanya gejala seeking juga disertai dengan simtom over atau under responsive pada beberapa sensori/indera.

Apa yang dapat dilakukan?

1.Konsultasi dengan ahli (dokter anak spesialis saraf (neurolog anak)/dokter anak spesialis tumbuh kembang/psikolog klinis anak/terapis okupasi)

Ketika anak menunjukkan gejala underresponsive atau overresponsive atau seeking/craving, orangtua sebaiknya membawa anak ke ahli untuk memastikan seberapa parah gejala tersebut. Apabila gejala ini terbilang mengganggu fungsi keseharian anak (fungsi kemandirian / fungsi sosial / fungsi akademis), ahli akan memberikan rujukan ke terapis untuk menjalani asesmen dan mengikuti terapi yang sesuai dengan kebutuhannya.

2.Terapi yang sesuai: Okupasi

Terapi yang dapat diberikan pada anak dengan gejala SPD adalah terapi okupasi dengan pendekatan Sensory Integration (SI). Adapun yang dapat menerapkannya adalah Terapis Okupasi yang menggunakan pendekatan SI. Ayres (2005) dalam bukunya yang berjudul “Sensory Integration and the Child: Understanding Hidden Sensory Challenges” mengemukakan bahwa terapi okupasi pada dasarnya dirancang untuk membantu orang-orang dengan kesulitan motorik dan perilaku, untuk membentuk respon yang tepat atau adaptif sehingga dapat membuat mereka memperbaiki kondisi mereka sendiri. Beberapa terapis okupasi kemudian telah memodifikasi teknik-teknik tersebut dan menerapkannya pada anak-anak dengan masalah sensory integration (SI).

Ayres (2005) mengemukakan bahwa lingkungan memberikan kita banyak kesempatan untuk menggunakan indera-indera kita. Melalui gerak, kita akan merasakan sensasi otot dan sendi yang muncul dari tubuh. Sensasi dan respon tersebut akan membuat otak menjadi berkembang. Terapi dengan pendekatan SI merupakan proses yang natural. Interaksi yang natural melalui aktivitas fisik akan memberikan pengalaman sensoris dan kesempatan anak untuk merespon secara adaptif, sehingga otak dapat berkembang lebih optimal.

Anak dengan masalah SI/SPD memiliki kesulitan dalam menyesuaikan diri secara efektif di kondisi lingkungan tertentu. Hal ini disebabkan karena otaknya tidak mampu berkembang untuk mengintegrasi sensasi-sensasi dari lingkungan tersebut. Untuk itu, anak perlu lingkungan yang khusus, yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhannya sehingga ia dapat mampu mengintegrasikan sensasi-sensasi yang tidak pernah diperoleh sebelumnya. Melalui terapi okupasi dengan pendekatan SI, anak akan seringkali secara spontan mempelajari kemampuan-kemampuan atau perilaku tertentu. Aktivitas-aktivitas fisik yang sesuai diharapkan dapat menghasilkan sensasi-sensasi yang mengarah pada respon adaptif bahkan respon-respon yang lebih kompleks.

3.Stimulasi pada anak dengan gejala SPD

Jika anak menunjukkan adanya masalah SI, langkah awal yang baik adalah membawa anak dan berkonsultasi pada ahli. Pada anak yang harus menjalani terapi, orangtua juga perlu memberikan stimulasi di luar lingkungan terapi, sehingga anak dapat memperoleh kemajuan yang optimal.

Adapun yang harus dilakukan orangtua adalah dengan mengontrol lingkungan di luar terapi sesuai dengan kebutuhannya. Saat anak menunjukkan gejala seeking/craving pada aktivitas gerak, orangtua dapat memberikan fasilitas dengan menyediakan kondisi yang memudahkannya untuk bergerak. Contohnya mengajak anak ke tempat bermain (playground). Contohnya saat anak mencari stimulasi yang melibatkan indera vestibularnya. Orangtua dapat memberikan kegiatan seperti berlari, melompat di trampolin, ayunan, memanjat, dsb.

Meskipun demikian, bukan berarti anak yang tidak perlu menjalani terapi terbilang cukup memperoleh stimulasi di lingkungannya. Apabila orangtua telah melakukan konsultasi dan mengetahui area-area tertentu yang mengalami masalah SI namun belum menunjukkan adanya gangguan, pemberian stimulasi yang sesuai juga dapat diberikan pada anak. Hal yang perlu ditekankan adalah orangtua memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kebutuhan anak sehingga stimulasi yang diberikan pun akan menjadi tepat.

“Behind every young child who believes in himself, is a parent who believed first” -unknown

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *